Di samping kisah Sayyidah Aisyah, peran perempuan di zaman kenabian juga diperkuat dengan Asma’ binti Abu Bakar. Ia juga dikenal sebagai sahabat Nabi yang paling terpelajar, memiliki integritas, ketabahan, dan keberanian yang tinggi. Pada saat perang Yarmouk melawan Bizantium, Ia ikut serta berpartisipasi dengan Muslimah lainnya.
Berdasarkan pemaparan di atas kita bisa memahami bahwa pemaknaan kata “shalihah” yang semula rancu karena mengarah pada menutup diri, kini menjadi jelas. Kata “Shalihah” bukan bermakna perempuan muslim yang menutup diri dan menutup akses kehidupannya karena takut menjadi sumber fitnah. Lebih luas, makna kata “shalihah” kaitannya adalah pada amaliahnya, baik lahir maupun batin.
Kesimpulan
Analisis mendalam pada ayat Al-Qur’an, hadits, dan kisah kenabian ini alhasil mematahkan persepsi sosial bahwa perempuan adalah sumber fitnah. Hadits dari Usamah bin Zaid dinilai ulama sebagai hadits yang diperuntukkan bagi laki-laki dan menjadi pengingat baginya.
Tabiat naluriah laki-laki dalam hal ketertarikan terhadap perempuan menjadi hal yang perlu dikendalikan agar tidak menimbulkan mafsadah bagi dirinya sendiri maupun banyak orang.
