Faktanya, menurut data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), hingga tahun 2024, rata-rata lama sekolah warga Indonesia hanya 9,22 tahun alias setara kelas 9 SMP, sementara yang tidak atau belum sekolah sebanyak 24,3 persen, warga tamatan SD sebanyak 22,72 persen, tamatan SMP sebanyak 35,96 persen, tamatan SMA sebanyak 30,85 persen, dan tamatan perguruan tinggi (D1— S3) sebanyak 6,82 persen.
Ini kondisi konkret tentang kualitas sumber daya manusia Indonesia. Rakyat yang berpendidikan tinggi lebih sedikit dari yang lulusan SD, SMP, SMA atau dari mereka yang belum atau tidak bersekolah. Artinya, selama 80 tahun merdeka rupanya sektor pendidikan Indonesia belum sepenuhnya merdeka dari ketidakidealan dan ketertinggalan. Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga yang merdeka satu hingga dua dekade setelah kemerdekaan Indonesia. Dibandingkan Singapura yang merdeka pada tahun 1965, kualitas pendidikan Indonesia sudah sangat tertinggal di belakang.
Ini bisa dilihat dari data PISA, yaitu asesmen internasional yang mengukur kemahiran siswa-siswi di seluruh dunia di bidang literasi membaca, sains, dan matematika. Berdasarkan PISA 2022, praktis Singapura menempati peringkat pertama dari 80 negara yang berpartisipasi dalam tes. Sementara Indonesia berada di peringkat 69 dari 80 negara partisipan. Jika dibandingkan dengan peringkat PISA negara-negara ASEAN tahun 2022, Indonesia juga tertinggal alias berada di peringkat enam besar (6) ASEAN, yaitu di bawah Singapura (1), Vietnam (2), Brunei (3), Malaysia (4), Thailand (5), disusul kemudian oleh Filipina (7) Kamboja (8) (OECD, 2022).
