“Anggaplah kalau dari Malaysia belinya, berarti dari Petronas. Dari Petronas ke orang atau broker ini, kemudian baru dibeli sama Petral. Nah, karena tata kelolanya ini malah melalui pihak ketiga, kemudian diubah supaya (seolah, red.) bisa langsung ke NOC (national oil company, perusahaan minyak dan gas negara, red.),” kata Asep kepada wartawan seperti dikutip, Jumat (21/11/2025).
Menurut dia, pembelian melalui broker yang dilakukan Petral tersebut justru memperpanjang rantai distribusi perdagangan minyak mentah.
“Jadi, tetap saja yang punya minyak ini adalah pihak ketiga, dan seolah-olah dari national oil company. Nah itu informasi yang kami terima ya berupa dokumen, seperti itu,” jelasnya.
Selain itu, dia mengatakan pembelian melalui broker yang kemudian diduga dimanipulasi seolah dilakukan antarperusahaan migas negara membuat harga minyak mentah yang dibayar menjadi tinggi.
“Jadi, harganya bisa lebih tinggi gitu ya. Itu sementara yang kami duga terjadi hal seperti demikian,” katanya. (Yudha Krastawan)
