Fitur yang tersedia pun cukup lengkap. Di antaranya:
1. Rekomendasi otomatis berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik)
2. Pemeriksaan dokumen secara real time
3. Pemeringkatan objektif sasaran revitalisasi
4. Verifikasi berlapis oleh pemerintah daerah dan pusat
5. Akses detail kondisi bangunan sekolah hingga per ruang
“Dengan aplikasi ini, perencanaan hingga evaluasi revitalisasi tahun 2026 bisa berjalan lebih terintegrasi dan efisien,” kata Gogot.
Tak hanya untuk rehabilitasi ruang rusak, menu revitalisasi kini diperluas untuk menjawab kebutuhan sekolah secara lebih komprehensif. Termasuk:
1. Pembangunan ruang belajar baru
2. Perbaikan sarana yang rusak
3. Penataan lingkungan sekolah seperti pagar, akses masuk, ruang tunggu, estetika sekolah
4. Penyediaan sumber air bersih demi sanitasi yang layak
Program ini berlaku untuk sekolah negeri maupun swasta, dengan prioritas pada daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), serta sekolah yang mengalami kerusakan paling parah.
Gogot juga menyoroti bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam pemerataan akses pendidikan. Berdasarkan data nasional, terdapat sekitar 1,2 juta ruang kelas dalam kondisi rusak sedang hingga berat di 195 ribu sekolah.
