
Perang di kawasan Laut Hitam, lanjutnya, sempat mengganggu sekitar 30 persen ekspor gandum global yang sebelumnya dipasok Rusia dan Ukraina. Lonjakan harga pangan dunia pada 2022 menjadi bukti nyata bahwa sistem pangan internasional sangat rentan terhadap konflik geopolitik.
Di sisi lain, China memperkuat kebijakan cadangan strategisnya dan dilaporkan menguasai lebih dari separuh stok gandum global pada periode 2022–2023. Amerika Serikat tetap menjadi eksportir utama jagung dan kedelai, sementara Rusia memperluas ekspor gandumnya ke Asia dan Afrika meski menghadapi sanksi Barat.
“Pangan kini menjadi instrumen leverage geopolitik. Negara eksportir dapat menggunakan komoditas pangan sebagai alat pengaruh,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, pemerintahan Presiden Prabowo menargetkan swasembada beras dengan produksi nasional sekitar 34–35 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi domestik sekitar 31 juta ton. Pemerintah juga memperkuat cadangan beras untuk menjaga stabilitas harga dan mengurangi ketergantungan impor.
