Secara strategis, Sahrul menilai langkah ini sebagai upaya membangun systemic resilience terhadap volatilitas global. Namun ia mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak identik dengan swasembada satu komoditas.
Sebagai aktivis hukum, Sahrul menyampaikan beberapa catatan penting:
Konsentrasi Komoditas – Fokus dominan pada beras berpotensi menciptakan ilusi keamanan. Ketahanan pangan harus mencakup diversifikasi karbohidrat dan protein.
Ketergantungan Input Eksternal – Kenaikan harga pupuk dan energi akibat konflik global dapat meningkatkan biaya produksi domestik dan memicu inflasi pangan.
Risiko Iklim – Fenomena El Niño dan perubahan iklim dapat menurunkan produktivitas tanpa modernisasi irigasi dan inovasi teknologi pertanian.
Dimensi Fiskal – Program sosial seperti makan bergizi gratis memerlukan tata kelola ketat agar tidak menimbulkan tekanan fiskal jangka panjang.
Menurut Sahrul, dalam paradigma pertahanan modern, pangan merupakan bagian dari kekuatan nasional non-militer. Ketegangan di kawasan Indo-Pasifik dan Eropa Timur membuat stabilitas jalur perdagangan global tidak sepenuhnya dapat dikontrol oleh Indonesia.
