Untuk memperkuat struktur industri agro, pemerintah terus menjalankan kebijakan hilirisasi berbasis sumber daya alam dalam negeri. Program ini dilakukan dengan mengintegrasikan sektor hulu dan hilir dalam satu ekosistem industri yang saling terhubung, sehingga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Melalui pendekatan klaster berbasis wilayah, komoditas unggulan seperti kakao, sagu, dan kelapa diarahkan untuk diolah menjadi produk turunan di sektor pangan, farmasi, kosmetik, hingga bioenergi. Strategi ini diproyeksikan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas hingga ratusan kali lipat dibandingkan dengan penjualan bahan mentah.
“Industri makanan dan minuman dalam negeri telah meningkatkan kapasitas produksi untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama Ramadan dan Idul Fitri. Saat ini tingkat utilisasi industri makanan dan minuman berada pada kisaran 70–80 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata utilisasi normal sekitar 60 persen,” ujarnya.
Pemerintah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjamin kelancaran pasokan bahan baku industri, antara lain melalui optimalisasi Neraca Komoditas serta koordinasi lintas sektor guna memastikan distribusi barang berjalan lancar selama periode Hari Raya Idul Fitri.
