“Kalau subsidi BBM dikurangi, kami tidak setuju. Yang diperlukan justru subsidi LPG 3 kg itu harus tepat sasaran,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan perhitungan pihaknya, jumlah masyarakat yang benar-benar berhak menerima subsidi LPG 3 kg sebenarnya lebih kecil dari angka dalam pagu anggaran saat ini. Dari 8,6 juta penerima yang terdata, hanya sekitar 5,4 juta yang dinilai layak jika dilakukan penyaringan secara tepat.
“Kalau mau tepat sasaran, LPG 3 kg itu hanya untuk sekitar 5,4 juta orang. Jadi tidak perlu sampai 8,6 juta seperti dalam pagu,” jelasnya.
Said juga menyoroti dampak kenaikan harga minyak dunia yang memengaruhi berbagai sektor, tidak hanya BBM. Namun, ia menekankan agar pemerintah tidak mengurangi subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat kecil.
“Kenapa yang untuk orang miskin yang diotak-atik? Jangan. Kalau mau, yang di pasar non-subsidi saja yang disesuaikan,” pungkasnya.
Usulan penggunaan teknologi biometrik ini pun berpotensi menjadi bahan diskusi lanjutan antara pemerintah dan DPR, terutama dalam upaya memperbaiki tata kelola subsidi energi agar lebih efisien dan tepat sasaran.(Vinolla)
