Beliau mengibaratkan bahwa jangankan warga sipil, sesama anggota kepolisian pun akan merasa malu jika tertangkap tangan melakukan pelanggaran di jalan raya oleh rekan sejawatnya.
“Jangankan masyarakat biasa, kita saja polisi (kalau) ketemu orang korsa (sesama anggota), kita melanggar, malu kita. Apalagi masyarakat biasa. Nah kalau statistik (ETLE) ini kan tidak ketemu,” tambahnya.
Meski demikian, Brigjen Pol. Faizal memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap menjadi prioritas utama Korlantas.
Sulawesi Selatan sendiri tercatat sebagai salah satu wilayah dengan kepemilikan perangkat ETLE handheld terbanyak di luar Pulau Jawa dengan total 74 unit.
Ia mendorong agar teknologi canggih ini tetap dioptimalkan untuk memantau titik-titik yang selama ini tidak terjangkau oleh kamera ETLE statis.
“Data yang saya baca di Korlantas, jumlah data perangkat ETLE terbanyak setelah Jawa itu ya Sulsel (Sulawesi Selatan). Handheld-nya ada 74, itu dioptimalkan. Imbangi dengan manual, silakan. Pokoknya yang penting tidak ada transaksional, ini perlu diperhatikan terutama di wilayah yang banyak laka,” pungkasnya. (ahmad)
