Kondisi ini membuat Rachel terpukul, terlebih tidak ada perjanjian tertulis yang bisa menjadi dasar hukum. Ia mengaku hanya mengandalkan kepercayaan, yang kini justru berujung kekecewaan.
“Dari awal nggak usah kasih aja tuh rumah… mau lewat hukum juga cuma atas kepercayaan,” ungkapnya.
Merasa dikhianati, Rachel memilih untuk merelakan rumah tersebut. Ia bahkan menyebut sosok yang dulu dianggap sebagai sahabat kini berubah menjadi “mimpi buruk” dalam hidupnya.
“Yaudah ambil tuh rumah… gue yang bakal kerja keras buat anak-anak gue,” tulisnya tegas.
Tak hanya Rachel, polemik ini juga menyeret perhatian keluarga. Sang ibu, Vien Tasman, turut mengungkap keterkejutannya setelah mengetahui rumah tersebut hendak diambil kembali, padahal telah direnovasi dengan biaya Rachel.
Dalam percakapan yang dibagikan ke publik, Vien mempertanyakan nasib adik-adik Rachel yang masih tinggal di rumah tersebut, sekaligus menyoroti perjuangan putrinya sebagai ibu tunggal yang membiayai kebutuhan anak-anak seorang diri.
