“Dalam hal ini termasuk jamu. Kita harus mengemas, mengembangkan, dan memanfaatkannya semaksimal mungkin, apalagi setelah diakui sebagai warisan budaya UNESCO,” katanya.
Ia juga berharap Indonesia dapat memperluas kerja sama dengan negara sahabat, termasuk Tiongkok, dalam proses inskripsi UNESCO melalui joint nomination maupun extension.
“Mudah-mudahan ke depan kita bisa menjalin lebih banyak kerja sama dengan negara-negara sahabat, termasuk China atau Tiongkok, dalam proses inskripsi di UNESCO, baik melalui joint nomination maupun extension,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Fadli menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara mega diversity memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, termasuk 16 warisan budaya takbenda yang telah diinskripsikan UNESCO seperti wayang, batik, jamu, angklung, dan tari saman.
Ia juga menyoroti berbagai pengaruh budaya Tiongkok yang dapat ditemukan dalam seni dan tradisi Indonesia, mulai dari motif batik pesisir, perkembangan wayang kulit, hingga kesamaan artistik antara Opera Peking dengan pertunjukan tradisional Indonesia.
