Selanjutnya, setelah bahan dasar itu tercampur diolah menjadi wax, maka tahap berikutnya untuk mengaplikasikannya dilakukan melalui tiga tahap. Tahap pertama, dioles, kedua, disemprot lalu ketiga, dilap menggunakan kain ramah lingkungan.
Menurutnya, hal tersebut ampuh untuk mengusir rayap, kumbang bubuk kayu, serangga hingga laba-laba yang dapat merusak kayu perabot furnitur.
“Setelah bahan-bahan olahan itu jadi wax lanjut dioleskan ke sejumlah perabotan gereja, seperti bangku, kursi, meja beserta patung di gereja Paroki Tebet. Jadi ada tahapan harus dilalui,” katanya.
Sejumlah perawatan itu dilakukan tidak lain sebagai persiapan ke depan pada puncak acara di tanggal 4 Oktober, bangunan gereja ini yang akan berulang tahun ke-60.
“Bertepatan pula dengan momentum 800 tahun lalu Santo Fransiskus Asisi meninggal,” ucap Konradus tersenyum.
Sebetulnya, sambung dia, selain aksi bersih-bersih gereja juga ada persiapan untuk menyambut kegiatan kerohanian dan lainnya.
Sebab, menurut dia, jika perabot gereja itu dipernis memakai bahan kimia itu tidak aman bagi lingkungan. Sehingga pihaknya menggunakan bahan-bahan alami, yang tentunya dalam prosesnya membutuhkan waktu cukup panjang untuk diaplikasikan.
