Menurut perhitungannya, nilai bantuan MBG sebesar Rp15.000 per hari jika dikumpulkan hingga dirinya lulus sekolah dalam waktu sekitar 18 bulan dapat mencapai lebih dari Rp6 juta.
“Harapan saya anggaran itu dialokasikan untuk guru-guru honorer,” katanya.
Meski menolak menerima jatah MBG untuk dirinya sendiri, Rafif menegaskan bahwa sikap tersebut merupakan keputusan pribadi dan tidak dimaksudkan untuk memengaruhi siswa lain.
“Saya tidak memaksa kawan dan siswa lain untuk mengikuti keputusan saya,” jelasnya.
Rafif juga mengungkapkan bahwa setelah surat terbukanya viral, ia mengalami berbagai bentuk perundungan dan intimidasi di dunia maya. Bahkan, ia mengaku menerima sejumlah pesan bernada ancaman dari pihak yang disebutnya sebagai pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Meski demikian, Rafif memilih untuk tetap tenang dan menghormati perbedaan pendapat yang muncul.
“Dalam berpendapat itu ada yang suka dan ada yang tidak. Dan saya menghargai orang yang tidak suka,” ujarnya.
Ia mengatakan, dari jajaran pemerintah, hanya Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mugiyanto, yang secara terbuka menyatakan akan memberikan perlindungan terhadap dirinya setelah muncul berbagai intimidasi tersebut.
