Lebih jauh, kepala divisi Bogasari itu menjelaskan, keunikan dari bahan pangan tepung terigu adalah sangat mudah dan fleksibel untuk dicampur atau disubstitusi dengan bahan pangan lokal berbasis kedaerahan.
Hal ini dibuktikan oleh para UKM mitra Bogasari, seperti Cake Salakkilo dari Balikpapan yang mencampur terigu dengan buah salak, UKM Nustsafir dari Lombok yang menyerap berbagai komoditas biji-bijian seperti kacang merah, kacang mente, biji kopi, kacang tanah dengan terigu menjadi aneka kue kering.
Ada juga buah durian dicampur dengan terigu sehingga menghasilkan roti durian, buah naga dengan adonan mie menjadi mie merah, atau wortel sehingga menjadi mie orange, tepung bagelen (singkong) dengan terigu di Bandung, Jawa Barat, menjadi Roti Bagelen, dan masih banyak lagi.
“Melalui tepung terigu, maka nilai ekonomi produk pertanian lokal Indonesia kian bertambah. Potensi keanekaragaman pangan dengan kearifan lokal inilah yang terus digali dan dikembangkan oleh Bogasari melalui unit pelatihan bernama Bogasari Baking Center (BBC), kemudian dilatih kepada UKM dan masyarakat yang ingin memulai usaha makanan jadi berbasis terigu. Perhatian dan kepedulian kepada UKM jadi bagian dari strategi manajemen pemasaran Bogasari dalam menumbuhkembangkan usaha para UKM,” jelas Franky.

