“Jujur saya tidak habis pikir, sepositif apa pun saya memaknai lagu ini. Saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia.
Ia menilai masih banyak pilihan diksi dalam bahasa Sunda yang lebih pantas digunakan dalam sebuah karya lagu. Menurutnya, budaya Sunda tidak pernah mengajarkan sikap yang merendahkan martabat perempuan.
“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan, namun justru narasi sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, terkait somasi maupun kritik yang ditujukan terhadap lagu tersebut.(Vinolla)

