Ketika ditemui, Nani menuturkan, awalnya dari tahun 2010 dirinya ikut orang lalu di 2016 ketika ada modal dia berupaya membuka usaha toko sendiri dengan menjual asesoris yang terbuat dari mutiara asli air tawar untuk dijadikan bros, kalung, dan gelang.
Dia menjelaskan, untuk mutiara asli dengan yang imitasi sangat jelas bisa dibedakan ketika dilihat kasat mata sekali pun. Jika mutiara imitasi yang pasti akan ada pewarnaan pada bentuk tampilan fisiknya dan bahan cepat terkelupas kalau yang imitasi.
“Gampang dibedakan, kalau imitasi pasti catnya mudah terkelupas, tapi kalau mutiara asli biasa jika pengunjung Ibu-Ibu tesnya dengan digigit ‘kletes’,” ungkap Nani.
Dia mengatakan, dalam proses pembuatan sejumlah asesoris mutiara tersebut dilakukan secara otodidak.
“Otodidak lima tahun sudah dijalankan hingga sekarang dan banyak hasil kreasinya sendiri, merangkai sendiri, bikin kalung, bros dan gelang sendiri,” ucapnya.
Diungkapkan olehnya bahwa untuk pasokan bahan mutiara asli dikirim langsung dari Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Terkadang barter, dia membeli bahan mutiaranya dan mereka membeli jadi asesoris yang sudah jadi.
