“Penggunaan cara-cara tradisional seperti gepyok harus kita tinggalkan. Kita dukung penuh pasukan darat dari TNI dan tim gabungan dengan perlengkapan modern, APD, serta pompa portabel agar proses pemadaman berjalan efisien dan aman,” tegas Suharyanto.
Keterbatasan sumber air di lokasi kebakaran menjadi salah satu tantangan dalam operasi pemadaman. Untuk mengatasinya, BNPB menyiapkan skenario penempatan kantong air elastis atau flexible tank berkapasitas masing-masing enam ton di sejumlah titik sepanjang jalur darat utama.
Kantong air akan diisi secara berkala menggunakan helikopter water bombing sehingga dapat menjadi sumber pasokan air bagi personel pemadam di darat. Skema ini diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman sekaligus mendukung pembasahan area yang telah terbakar guna mencegah munculnya kembali titik api.
Lebih lanjut, BNPB juga telah memobilisasi tiga unit helikopter untuk mendukung operasi pemadaman melalui udara di kawasan TNBTS. Penggunaan armada water bombing menjadi salah satu strategi utama mengingat kondisi medan curam dengan kemiringan lereng mencapai sekitar 80 derajat sehingga menyulitkan akses personel dan peralatan pemadaman melalui jalur darat.
