Sementara, upaya pemadaman melalui hujan buatan atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan karena belum terdapat pertumbuhan awan hujan memadai di sekitar kawasan TNBTS.
“Kami manfaatkan cuaca cerah dan optimalkan pemadaman udara (water bombing) sampai sore hari. Kami patok target, paling lambat Jumat seluruh titik api sudah padam sehingga armada pemadaman udara dapat dialokasikan untuk membackup penanganan bencana di titik rawan lainnya,” tukas Suharyanto.
Pada Selasa (11/8), operasi water bombing difokuskan pada satu titik kebakaran di Pusung Duwur, wilayah Dingklik. Selain menjatuhkan air untuk memadamkan api, operasi juga diarahkan untuk membasahi area yang sebelumnya terbakar guna mengurangi potensi munculnya kembali titik api.
Kepala BNPB juga mengingatkan Pemerintah Daerah dan unsur satuan tugas penanganan karhutla di Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran ke kawasan gunung di sekitar TNBTS, termasuk Gunung Arjuno.
Kesiapsiagaan juga perlu diperkuat terhadap potensi kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah, khususnya di kawasan perkotaan. Kebakaran di lokasi itu dapat menghasilkan asap pekat yang berpotensi berdampak langsung terhadap masyarakat di wilayah permukiman dan perkotaan.
