Menurutnya, keberadaan pasar modal menjadi katalis pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh kerena itu, Wamenkeu Juda mendorong terwujudnya pasar modal Indonesia yang dalam, liquid, dan terpercaya serta kredibel sehingga dapat berperan secara optimal dalam memfasilitasi investasi dan mendukung target-target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Meski lebih dari Rp125 triliun telah berhasil dihimpun selama semester I 2026, dengan jumlah investor pasar modal mencapai 28 juta investor, ia meminta para pelaku industri untuk tidak berpuas diri. “Kita perlu terus memperluas basis investor, menambah keragaman instrumennya, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah menyambut baik agenda reformasi yang tengah dijalankan oleh OJK dan BI, mulai dari penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga pendalaman pasar yang tercakup dalam rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Wamenkeu Juda Agung mengapresiasi peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Emas hari ini sebagai salah satu langkah konkret perluasan ragam instrumen dan penguatan likuiditas pasar modal agar makin bersaing di tingkat regional maupun global. Menurutnya, di pasar modal global, minat terhadap ETF berbasis emas meningkat. Ia menyebut, pada tahun 2025 aset kelolaan ETF emas global mencapai US$559 billion dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.
