IPOL.ID – Dengan meningkatnya layanan digital dan video streaming mendorong peningkatan trafik broadband. Hal ini menyebabkan operator telekomunikasi perlu memperluas dan meningkatkan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) sehingga kebutuhan energi jaringan seluler ikut meningkat.
Peneliti Ahli Muda, Kelompok Riset Communication and Signal Processing, Pusat Riset Telekomunikasi, Mochamad Mardi Marta Dinata, memaparkan hasil kajian mengenai kebutuhan energi jaringan telekomunikasi seluler di Indonesia serta tantangan efisiensi energi di tengah meningkatnya penggunaan layanan digital.
Menurut Mardi, hingga saat ini masih belum tersedia pemodelan energi jaringan seluler berbasis representasi stok BTS dan variasi komposisi yang dapat digunakan pada level makro. Oleh karena itu, penelitian tersebut dilakukan untuk membantu memahami kebutuhan energi jaringan secara lebih menyeluruh.
Dalam pemaparannya, Mardi mengungkapkan bahwa industri telekomunikasi menghadapi tantangan besar karena kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan trafik data dan penggunaan internet masyarakat. “Sekitar 20 persen biaya operasional operator digunakan untuk energi, bahkan, berdasarkan laporan tahunan salah satu operator telekomunikasi di Indonesia, hampir 90 persen konsumsi energi berasal dari operasional BTS,” jelas Mardi saat menjadi narasumber Podcast (Pusat Obrolan Digital Cerdas Analisis Sistem Telekomunikasi) #1 secara daring, mengutip Sabtu (23/5/2026).
