“Ini penting, karena di Tabanan yang menjadi isu ini pada abad 9-14 M, masih sangat kurang informasi dalam konteks tentang sejarah Bali. Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi kita di masa depan,” imbuh Irfan. Karena Bali merupakan bagian penting dari lokasi penemuan prasasti yang sampai sekarang masih banyak temuan-temuan.

Dalam Webinar ini dihadirkan tiga narasumber. Narasumber pertama adalah I Gusti Made Suarbhawa, Peneliti Kelompok Riset Efigrafi PR APS BRIN yang memaparkan tentang Temuan Prasasti Logam di Tepi Timur Danau Tamblingan sebagai Data untuk Mengungkap Situs Tamblingan.
Suarbhawa menjelaskan, pada bulan September 1997, salah seorang petani penggarap dari Desa Wanagiri saat menggarap lahan di tepian timur Danau Tamblingan, cangkulnya terantuk benda keras. Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata benda tersebut adalah lempengan prasasti tembaga. “Temuan lempeng prasasti tembaga ini menjadi indikator penting dan tonggak awal Balai Arkeologi Denpasar untuk melaksanakan penelitian di sekitar Danau Tamblingan,” jelas Suarbhawa.
