Ia meyakini, jika pembenahan transportasi massal dilakukan dengan baik maka perlahan namun pasti masyarakat akan beralih meninggalkan kendaraan pribadi mereka untuk kegiatan sehari-hari. Ia melihat anggaran pemerintah cukup besar untuk melakukan perbaikan transportasi massal ini sehingga akhirnya bisa menekan angka kemacetan dan polusi.
Djoko mencontohkan, sebelum tahun 2013 pelayanan KRL Jabodetabek sangat buruk sehingga hanya mampu mengangkut rata-rata 350 penumpang per hari. Namun, setelah dilakukan berbagai pembenahan di segala sisi, dalam kurun waktu lima tahun jumlah penumpang pun melonjak hingga 1,1 juta pada tahun 2018.
Djoko juga mengatakan, pembenahan angkutan umum jangan hanya berfokus di Jakarta saja, tapi jug a di daerah penyangga, seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek).
“Bantuan rutin dari APBD DKI Jakarta setiap tahun ke pemda di Bodetabek untuk beberapa tahun dapat difokuskan untuk membenahi layanan angkutan umum di daerah masing-masing,” pungkasnya.(Vinolla)
