“Karena sering keluar kota dan mengerjakan proyek sampai berbulan-bulan saat libur kuliah, saya agak sedikit khawatir kalau gerd yang saya deritakambuh. Apalagi kalau mengerjakan proyek di wilayah yang lumayan jauh dengan kota, kekhawatiran tidak bisa mengakses faskes yang layak pasti ada. Sudah jauh dari keluarga berada di kota orang, sakit, pasti saya ingin dapat layanan berobat dari faskes yang bisa menyembuhkan dengan baik,” kata Gheriya.
Namun kekhawatiran Gheriya tentang akses layanan Program JKN seakan terjawab. Ada satu pengalaman Ketika ia terlibat disalah satu proyek pembangunan tol layang yang dialaminya pada tahun lalu. Saat itu, dia tidak sengaja terjatuh dari tangga rumah kontrakannya sehingga mengakibatkan bibirnya sobek dan gigi depan patah.
“Pertama kali saya menggunakan JKN waktu itu saya sedang mengerjakan proyek tol layang bersama dengan dosen saya. Karena proyeknya jauh dari domisili saya, akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk tinggal sementara didekat lokasi proyek. Karena kecerobohan saya saat menuruni tangga kontrakan, saya terjatuh dengan luka yang cukup parah sampai bibir saya dijahit dan gigi saya patah. Saat itu saya sangat bingung sekaligus khawatir bisa apa tidak saya berobat,” kenangnya.
