“Brazil produksi tembakaunya lebih besar dari kita, sudah ratifikasi FCTC dan menaikkan cukai tiap tahun lewat pendekatan multisektoral. Vietnam mengenakan pajak tambahan 2% dari harga pabrik rokok untuk mendanai pengendalian tembakau, Amerika Latin, cukai naik tapi rokok ilegal justru turun,” jelas Beladenta.
Dalam kesempatan sama, Ketua Umum IYCTC, Manik Marganamahendra, berbicara dari perspektif generasi muda menjadi target utama industri. Strategi industri rokok dalam menggaet orang muda kini jauh lebih licin dan adaptif dibanding regulasi yang mengawasinya.
“Bentuk iklan rokok saat ini sudah tak selalu lewat billboard, tv, koran atau majalah, justru sekarang mereka masuk lewat ruang-ruang sulit dijangkau oleh pengawasan biasa, misalnya acara musik, kolaborasi konten kreator, sampai visual di jersey komunitas,” tukas Manik.
Manik menyebutkan, Indonesia sebenarnya sedang dalam proses merespons ancaman itu. Menurutnya, langkah ini perlu dikawal agar tidak berhenti sebagai dokumen teknis tanpa keberanian politik di belakang. Khususnya keberanian menteri kesehatan untuk segera melakukan implementasi.
