“Kalau industri punya menteri perindustrian, petani punya menteri pertanian, sudah semestinya menteri kesehatan bicara atas nama kesehatan bukan berkompromi dengan industri tembakau,” tegas Manik.
Sementara, Ketua Umum Udayana Central, dr Putu Ayu Swandewi Astuti, menyoroti bahwa Indonesia juga masih tertinggal jauh dalam hal desain peringatan kesehatan yang efektif. Perlu segera belajar dari negara lain dalam mendorong standardisasi kuat dan tidak kompromistis.
“Edukasi terkait bahaya rokok berupa kemasan bergambar terbukti efektif karena bisa memberikan visualisasi dampak lebih nyata. Sangat penting optimalisasi manfaat ini dengan penerapan kemasan polos (plain packaging) sehingga pesan bergambar jadi lebih jelas dan tak dirancukan warna warni branding produk mengaburkan pesan bahayanya. Ini akan membantu mengurangi daya tarik sehingga orang-orang muda tak tergoda untuk mencoba produk tembakau dan nikotin” ungkap dr Putu Ayu.
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan KAKAK, Shoim Shariati menekankan bahwa keberhasilan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) sangat bergantung pada komitmen kepala daerah dan dukungan dari kebijakan nasional.
