“Kalau Tanjidor, dan lainnya masih ada saja muncul di publik. Tapi sedikit praktisi membicarakan pembuatan golok justru ada di adat Betawi, karena ada bagian ketika akan menggelar kegiatan Betawi itu ada yang pakai golok. Tapi malah pembuatannya (golok) tak banyak disinggung atau diangkat. Nah, lahirlah Rumah Tempa Golok di Anjungan DKI Jakarta ini,” jelasnya.
Padahal, lanjut Ali, jika cakupannya dilebih luaskan lagi, contoh, masuk dengan menggandeng Rumah Tempa Golok menunjukkan bahwa di masa depan dari tempa golok itu sendiri, implementasi (golok) tidak seperti dulu lagi. Ketika golok dulu menjadi alat tempur, alat pertanian, dan senjata untuk melindungi diri.
Nah, begitu kemari di era modern sudah ada segmentasi orang menjadikan golok itu untuk berolahraga.
“Ingin disambungin nih, terlebih di Anjungan DKI Jakarta TMII ini kegiatannya masih monoton. Maka, muncul ide, ada diskusi juga, bisa tidak sih buat destinasi wisata baru? Supaya tidak melulu kegiatan itu-itu saja. Di luar ada banyak kegiatan memacu adrenalin. Tapi sifatnya yang lebih mudah dan aturannya lebih banyak dan keamanannya juga harus digalakkan banyak”.

