Lebih lanjut Ali menjelaskan, meski belum memasyarakat, memang target kegiatan Minggu hari ini untuk mengenalkan olahraga lempar pisau ke komunitas lainnya. Bahwa jika bicara dunia perbilahan, perpisauan, tidak melulu soal ketajaman, mengasah, dan soal jual-beli.
“Tapi disini juga ngomong prestasinya juga ada maka lahirlah kegiatan Artisani Bilah.
Artisani Bilah sendiri seni yang tujuannya lebih pada bilah yang lebih fleksibel, terutama pada dunia akurasi, makanya kita himpun dan triger ke beberapa komunitas,” ungkapnya.
Supaya mereka bisa menjadikan media itu untuk mentransfer nilai-nilai budaya. Contohnya, sambung dia, satu pisau ada yany didesain dibuat mirip keris dan memang sedikit tabu karena terkait benda pusaka.
“Tapi sebenarnya bisa jadi di kalangan anak-anak muda senang karena adanya pendekatan budaya dan ketika diajak olahraga lempar pisau mereka melihat loh bilah atau pisau ini kok bentuknya aneh ya, unik ya,” tutur Ali.
Secara spesifik olahraga ini bisa untuk seru-seruan fun throwing. Dijelaskannya, melihat teman-teman di Bandung, Jawa Barat, bentuk bilahnya bahkan lebih kaya dan banyak, ada yang bentuknya mirip kujang, lurus, bengkok dan bervariasi.

