Palembang memiliki keunikan budaya yang erat kaitannya dengan sungai dan lingkungan. Identitas masyarakat Palembang sebagai “wong kito galo” tidak terlepas dari Sungai Musi yang menjadi urat nadi kehidupan. Karena itu, pengembangan RTH di kota ini sebaiknya tidak hanya menonjolkan sisi hijau, tetapi juga mengangkat budaya lokal. Misalnya, sebuah taman kota bisa dilengkapi dengan panggung budaya untuk menampilkan seni tari, musik tradisional, atau kuliner khas Palembang.
Di kawasan sungai, ekowisata bisa dikombinasikan dengan cerita sejarah kerajaan Sriwijaya, sehingga pengunjung mendapat pengalaman “wisata hijau” yang juga kaya nilai budaya. Sinergi ini akan menciptakan identitas unik bagi ekowisata Palembang, berbeda dengan kota-kota lain.
Meski potensinya besar, pengembangan RTH sebagai ekowisata tidak lepas dari tantangan. Pertama, alih fungsi lahan yang terus terjadi akibat pesatnya pembangunan membuat luas RTH semakin berkurang. Kedua, beberapa taman kota di Palembang masih kurang terawat dan minim fasilitas, sehingga belum sepenuhnya ramah bagi wisatawan. Ketiga, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan RTH juga masih menjadi pekerjaan rumah. Selain itu, belum adanya promosi yang masif membuat potensi ekowisata berbasis RTH kurang dikenal, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

