Ia menegaskan bahwa upacara Rambu Solo’ bukanlah pesta kemewahan, melainkan bentuk penghormatan terakhir terhadap orang yang telah meninggal dunia. Prosesi ini mencerminkan nilai kasih, solidaritas, dan gotong royong yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Toraja.
“Esensi Rambu Solo’ adalah penghormatan kepada orang tua atau kerabat yang telah meninggal. Ini wujud cinta kasih dan penghargaan terhadap kehidupan, bukan sekadar pesta,” lanjutnya.
Amson menambahkan bahwa banyak orang luar sering salah menafsirkan tradisi Toraja karena hanya melihat sisi kemeriahan tanpa memahami makna spiritual dan sosial di baliknya. Ia juga menilai Pandji seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan materi yang berkaitan dengan budaya daerah.
“Pandji seharusnya memahami konteks budaya sebelum melontarkan candaan yang berpotensi menyinggung banyak pihak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Amson mengingatkan bahwa budaya Toraja, termasuk upacara Rambu Solo’ dan rumah adat Tongkonan, telah menjadi simbol kekayaan budaya Indonesia yang bahkan diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dunia.
