Konservasi tanah dan air pada dasarnya adalah upaya menggunakan setiap bidang lahan sesuai dengan kemampuannya serta memperlakukan tanah dengan cara-cara yang mencegah degradasi. Tujuannya tidak hanya menjaga tanah tetap produktif, tetapi juga memastikan air hujan dapat dikelola secara efisien: tidak menjadi banjir pada musim hujan dan tetap tersedia cukup air pada musim kemarau.
Dalam konteks perubahan iklim, ketika hujan ekstrem makin sering terjadi, prinsip ini menjadi semakin relevan.
Pada lahan perkebunan, termasuk kelapa sawit, konservasi tanah dan air bukan konsep abstrak. Ia hadir dalam praktik-praktik teknis yang sangat konkret. Budidaya harus didasarkan pada kelas kesesuaian lahan.
Daya serap tanah terhadap air perlu diperbesar agar limpasan permukaan, erosi, dan potensi banjir dapat ditekan. Pada saat yang sama, daya simpan tanah terhadap air harus ditingkatkan agar cadangan air tersedia lebih lama di dalam profil tanah.
Fondasi Mitigasi Hidrologis
Teknik-teknik konservasi seperti terasering, penanaman tanaman penutup tanah (cover crop), pengelolaan serasah dan bahan organik, hingga pemanfaatan limbah organik melalui aplikasi lahan (land application), terbukti berperan penting dalam memperbaiki struktur tanah.
