Sekat air, pintu pengatur muka air, serta jaringan drainase yang terencana menjadi instrumen penting untuk menjaga keseimbangan ini.
Konservasi tanah di lahan gambut juga menuntut pendekatan terpadu: tanpa pembakaran, pengolahan tanah minimum, penggunaan amelioran untuk menekan toksisitas asam organik, serta pemupukan yang tidak mempercepat dekomposisi gambut. Semua ini menunjukkan bahwa mitigasi banjir tidak bisa dilepaskan dari praktik agronomi yang detail dan disiplin.
Saya sering kali mendengar bahwa banjir dipersepsikan semata sebagai akibat dari jenis tanaman atau perubahan tutupan lahan. Pandangan ini terlalu menyederhanakan persoalan. Fakta ilmiahnya, banjir adalah hasil interaksi antara curah hujan, sifat tanah, topografi, sistem drainase, dan tata kelola lahan.
Dalam hujan ekstrem, semua sistem diuji hingga batasnya. Namun lanskap yang dikelola dengan prinsip konservasi tanah dan air memiliki peluang lebih besar untuk meredam dampak
tersebut.
Karena itu, mitigasi banjir seharusnya tidak berhenti pada retorika atau pencarian kambing hitam. Ia menuntut pendekatan yang realistis, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi jangka panjang.
