“Kalau kedai saya lebih menyasar layaknya pasar tradisional, makanya kenapa harganya ramah kantong, jauh dibawah, karena saya sasarannya middle low/menengah kebawah, orang-orang yang mau ngopi dengan harga murah tapi biji kopinya tetap pilihan. Karena banyak sekali yang jual murah rasanya asal-asalan tapi kalau kedai kita tidak, kita jamin biji kopi kita berkualitas,” tutur Edward di Pasar Rawamangun, Selasa (20/1/2026).
Edward melanjutkan, berawal dari kerinduan dia yang ingin menghidupkan aktivitas Pasar Rawamangun, yang tadinya sepi menjadi hidup kembali dengan cara membuka kedai kopi. Supaya orang-orang yang datang tidak hanya minum kopi saja tetapi juga berbelanja kebutuhan lain di pasar ini.
“Saya ingin buat hulu ke hilir, setelah kedainya sudah oke mungkin saya bikin roastingnya jadi dari hulu, kita roasting sampai kita sajikan minuman yang matang itu kerinduan saya sih,” ucapnya.
Disebutkannya, untuk biji kopi pilihan di toko Kopi Cap Bemo, paling murah dijualnya menyentuh diharga Rp 160 ribu dan paling mahal Rp 480 ribu, itu pun sudah merupakan kopi yang spesial.
