Sejauh ini, dia bersyukur animo masyarakat pecinta kopi yang mampir di kedai kopi Pasar Rawamangun cukup kuat bahkan dia tidak menyangka orang-orang dari luar banyak yang datang untuk menikmati seduhan kopi kedainya.
“Saya pikir kalangan menengah kebawah ke pasar datang mau belanja saja, ternyata enggak juga, mereka yang belum pernah ke Pasar Rawamangun pun ternyata datang untuk minum kopi juga”.
Sejak awal dibukanya kedai kopi, dirinya sudah menghadirkan seorang barista, dan saat ini dia sudah mempekerjakan lima orang karyawan.
“Jadi di toko Kopi Cap Bemo di lantai 1 yang saya sewa ini sudah ada dua pegawai, lalu di kedai kopi ada tiga karyawan,” ujarnya.
Menurutnya, suka dukanya dalam membuka kedai kopi pasti ada, ada kompetitor, karena setiap pasar tradisional pasti memiliki kopi jagoannya masing-masing.
“Kadang ada perbandingan, oh di pasar ini harganya cuma sekian, di pasar ini harganya cuma sekian, tapi ya beruntungnya kita konsisten dengan rasa dan memberikan harga terbaik, lalu dari situ tidak pernah berpindah-pindah, jadi dari kakeknya, turun ke bapak, ke anak hingga ke cucunya masih belanja kopi dari toko kita kopi Bemo”.
