BULOG sebagai pelaksana ekspor. Berbeda dengan yang beredar di Tanah Air, beras merek NUSANTARA di bawah bendera brand Befood itu hasil panenan baru. Setelah dibeli dari petani langsung diproses menjadi beras. Beras diolah di PT Padi Indonesia Maju di Serang, Banten, penggilingan padi milik Wilmar. Kata Ahmad Rizal, ada juga yang diolah di sentra penggilingan padi BULOG di Karawang dan Subang, Jawa Barat.
BULOG memiliki 10 sentra pengolahan padi (SPP) dan 7 sentra pengolahan beras di berbagai wilayah. Tiap SPP dilengkapi dryer berkapasitas 120 ton gabah kering panen (GKP)/hari dan 3 unit silo berkapasitas 6.000 ton. Dengan kapasitas giling 6 ton per jam dan asumsi kerja 10 jam sehari dan 25 hari/bulan total produksi hanya 18 ribu ton/bulan atau 306 ribu ton beras/tahun. Produksi riil bisa jauh dibawah asumsi itu.
Kualitas beras yang diekspor tergolong istimewa. Butir patah dan kadar air beras masing-masing di bawah 5% dan 14%. Derajat sosohnya di atas 100%. Karena itu, Ahmad Rizal menamai beras yang dikirim tersebut super premium yang pernah dibuat oleh BULOG. Selama ini beras yang diproduksi BULOG dan pelaku usaha swasta mengacu pada Peraturan Badan Pangan Nasional (Bapanas) No. 2 Tahun 2023. Di beleid itu kelas mutu beras dibagi menjadi empat: premium, medium, submedium, dan pecah.
