Merujuk data Bank Dunia per 3 Maret 2026, harga beras Thailand butir patah 5% dan 20% berkisar US$409 dan US$404 per ton, serta beras Vietnam butir patah 5% harganya US$349 per ton. Sementara harga beras India dan Pakistan butir patah 5%, merujuk data FAO 6 Maret 2026, masing-masing US$352 per ton dan US$364,8 per ton. Apabila dikonversi ke rupiah (dengan kurs Rp16.939 per dolar AS), harga beras dari negara-negara eksportir utama ini bergerak antara Rp5.011 hingga Rp6.928 per kg.
Kalau BULOG dan importir bersepakat pada harga FOB Rp16 ribu per kg, tentu patut diacungi jempol. Bukan dua, tapi 10 jempol. Walaupun capaian ini atas dukungan penuh pemerintah, terutama Kementerian Pertanian, Kementerian Haji dan Umroh, dan Kementerian Luar Negeri. Mungkin juga ada peran kementerian/lembaga (K/L) lain lagi.
Menurut Ahmad Rizal, harga Rp16 ribu/kg ini ada subsidi. Berapa subsidinya? Ini yang belum diketahui. Merujuk perkiraan biaya pokok beras hasil giling BULOG Rp14.782/kg, harga pembelian beras (HPB) BULOG oleh pemerintah bisa lebih Rp19.500/kg. Ini untuk beras kualitas medium. Untuk beras super premium, tentu HPB-nya lebih tinggi lagi.
