BULOG, dengan segenap plus minusnya, terbiasa mengerjakan hal-hal “tidak biasa”. Di masa lalu, mengelola surplus menjadi tantangan terberat bagi BULOG setelah Indonesia meraih swasembada beras 1984. Periode 1984-1994, penyaluran beras melalui operasi pasar menurun dratis. Seperti dicatat oleh Sapuan Gafar dan Noer Soetrisno (2026), akhir September 1984 stok beras menumpuk: mencapai 3,3 juta ton.
Agar tidak menumpuk dan rusak, pemerintah menyetujui dilakukan disposal stock dengan cara diekspor. Tapi harga beras dunia anjlok: dari US$220 menjadi US$150 per ton. Harapan dapat cuan tetapi tidak kesampaian. Dalam kurun 1984-1993 tercatat ekspor mencapai 1.573.000 ton dan impor 934.000 ton. Selisih surplus 639 ribu ton beras.
Uraian panjang lebar di atas menunjukkan, dampak ikutan dari pencapaian swasembada beras tidak serta merta menjadikan segala sesuatunya lebih mudah. Ketika kelebihan stok atau surplus cukup besar, ekspor adalah langkah strategis. Akan tetapi, ekspor perlu perencanaan matang dengan tenggat waktu terukur. Itu pasti butuh waktu. Karena harus menyiapkan beras Indonesia dapat berkompetisi di pasar dunia. Itu kalau pilihannya mau berkompetisi. Jika tidak, tak perlu (eksperimen) ekspor segala. (tim)
