“Perasaan takut ketinggalan itu memang tidak nyaman. Kita terus mengecek pesan, menunggu kabar, dan merasa gelisah ketika tidak mendapat informasi yang kita harapkan,” ujarnya.
Menurut Nur Fajri, FOMO banyak dialami kelompok usia 18 hingga 34 tahun karena fase tersebut merupakan masa yang penuh ketidakpastian. Banyak anak muda belum mengetahui secara pasti masa depan mereka, mulai dari persoalan pendidikan, pekerjaan, hingga jodoh.
“Usia muda adalah masa penuh ketidakpastian. Belum jelas lulus kapan, bekerja di mana, atau siapa jodohnya. Dalam situasi seperti itu, orang menjadi lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa kecenderungan tersebut juga berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Mengutip pemikiran para ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnu Khaldun, manusia secara naluriah ingin menjadi bagian dari komunitasnya. Karena itu, ketika melihat orang lain menikmati sesuatu yang sedang tren, muncul dorongan untuk ikut serta agar tidak merasa tertinggal.

