Menurutnya, seorang Muslim tidak boleh terjebak dalam sikap pesimis dan merasa rendah. Bahkan ketika mengalami kegagalan, Islam mengajarkan optimisme dan harapan.
Ia kemudian mencontohkan bagaimana Allah menghibur kaum Muslimin setelah Perang Uhud melalui firman-Nya: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” (QS. Ali Imran: 139)
Menurut Nur Fajri, ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak menghendaki umatnya tenggelam dalam kesedihan berkepanjangan.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya lingkungan pergaulan yang sehat. Salah satu cara mengatasi FOMO adalah memiliki lingkaran pertemanan yang saling menguatkan dan memberikan energi positif.
Ia mencontohkan bagaimana Khadijah binti Khuwailid memberikan dukungan kepada Nabi Muhammad ketika pertama kali menerima wahyu. Saat Nabi merasa cemas dan takut, Khadijah tidak memperburuk keadaan, melainkan mengingatkan berbagai kebaikan yang dimiliki beliau sehingga kembali tumbuh rasa percaya diri.

