“Ketika seseorang sedang merasa tidak mampu, tugas sahabat dan orang-orang terdekatnya adalah menghadirkan optimisme, bukan menjatuhkan,” katanya.
Lebih lanjut, Nur Fajri menyebutkan tiga langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan FOMO. Pertama, membangun lingkungan pertemanan yang sehat dan suportif. Kedua, memperbaiki orientasi hidup dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw.:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ
“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan selalu tampak di depan matanya.”
Sebaliknya, orang yang menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup akan memperoleh ketenangan batin dan rasa cukup dalam hidupnya.
Adapun langkah ketiga adalah mengubah FOMO menjadi motivasi positif. Ia menyebutnya sebagai “FOMO yang sehat”, yakni ketika seseorang terdorong melakukan kebaikan karena melihat keberhasilan orang lain.

