“Ketika melihat orang sukses, ada yang kemudian sedih dan berkata, ‘Aku tidak akan bisa seperti dia.’ Dari sinilah muncul berbagai persoalan psikologis,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa FOMO yang berlebihan dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari overthinking, gangguan tidur, kecanduan hiburan digital, hingga perilaku-perilaku yang menjauhkan seseorang dari nilai-nilai agama.
Dalam perspektif Islam, Nur Fajri menilai FOMO yang berlebihan dapat dikategorikan sebagai penyakit hati. Ia mengaitkannya dengan konsep hasad atau dengki yang dibahas para ulama klasik.
Mengutip definisi Ibn Qayyim al-Jawziyyah, hasad adalah keinginan agar nikmat yang dimiliki orang lain hilang. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua FOMO identik dengan hasad. Banyak orang yang justru melampiaskan FOMO dengan merendahkan diri sendiri dan terus-menerus menyalahkan dirinya.
Padahal, Islam melarang sikap semacam itu. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 11: “Janganlah kalian mencela diri kalian sendiri.”

