Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua FOMO bersifat buruk. Dalam kadar tertentu, keinginan untuk tetap terhubung dengan lingkungan sosial adalah sesuatu yang wajar. Persoalan muncul ketika FOMO berkembang menjadi rasa iri, rendah diri, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Untuk menjelaskan hal tersebut, Nur Fajri mengangkat kisah Qarun dalam Surah Al-Qashash. Ia menggambarkan Qarun sebagai sosok yang gemar memamerkan kekayaan dan menganggap keberhasilannya semata-mata hasil kecerdasannya sendiri.
Ketika Qarun tampil dengan segala kemewahannya, sebagian masyarakat terpesona dan berkata: “Aduhai, seandainya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun. Sungguh ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (Yā laita lanā mitsla mā ūtiya Qārūnu innahu lażū ḥaẓẓin ‘aẓīm) (QS. Al-Qashash: 79).
Menurut Nur Fajri, respons masyarakat terhadap Qarun menggambarkan gejala FOMO yang masih banyak ditemukan saat ini. Orang melihat kesuksesan orang lain, lalu merasa hidupnya kurang berarti.

