Daniel pun meminta agar operasi pemadaman karhutla diprioritaskan di titik-titik yang berdekatan dengan permukiman warga. “Upaya pemadaman titik-titik apa yang dekat dengan rumah warga harus dilakukan dengan cepat dan efektif. Pastikan keselamatan warga harus menjadi yang utama,” tegas Legislator dari Dapil Kalimantan Barat I itu.
Lebih lanjut, Daniel menyoroti data BMKG yang memprediksi Indonesia akan mengalami kemarau yang lebih panjang dan kering. Puncak kondisi tersebut diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Ancaman kekeringan akibat kemarau panjang biasanya berdampak terhadap perluasan karhutla. Untuk mengurangi potensi ancaman karhutla, Pemerintah diminta agar meningkatkan kesiapsiagaan seperti yang telah diimbau oleh BMKG.
“Pencegahan karhutla tidak dapat lagi mengandalkan sistem patroli atau operasi musiman yang sifatnya reaktif dan terbatas. Harus ada pencegahan dan langkah antisipatif serta deteksi dini,” jelas Daniel.
Daniel mengatakan, penting agar Pemerintah Daerah memberi perhatian lebih terhadap pengelolaan lahan dan air di kawasan lahan gambut. “Misalnya dengan pembuatan sekat kanal untuk menjaga kelembapan lahan gambut dan pembersihan vegetasi kering yang mudah terbakar,” lanjutnya.
