Sementara itu, Fermi, yang bersama-sama dengan Nawan tergabung dalam kelompok pengajian APB (Aksi Peduli Bangsa) di bawah asuhan ustaz Arifin, mengaku menyukai program yang dilangsungkan secara online maupun dengan tatap muka.
“Isi materi dan kajian juga relatif sama. Setiap peserta mendapat waktu dan kesempatan yang sama untuk bertanya saat kajian berlangsung,” jelasnya.
Tetapi setelah pandemi, ia mengatur 70 persen kegiatan mengajinya dilakukan secara online. Alasan lain yang dikemukakannya adalah,“Walaupun katanya COVID sudah tidak ada di Indonesia, tapi tetap saja masih ada rasa takut, karena kan masih ada juga yang kena. Jadi rasanya kalau di rumah tuh merasa lebih aman, lebih sehat.”
Bukan hanya peserta yang merasakan manfaat belajar online ini. Ustaz Taslim yang pernah dipercaya untuk memimpin sebuah pesantren di Bandung juga merasa waktu mengajarnya lebih efektif dan efisien dengan metode ini. Sebelum mengajar online, ia adalah dosen tidak tetap bahasa Arab di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Setelah pandemi berakhir, kegiatan tersebut maupun kegiatan tatap muka lainnya kini tidak lagi ia lakukan karena ia praktis mengajar beberapa grup di berbagai negara secara online setiap hari, rata-rata 13-14 jam.
