“Ada mereka itu yang di Eropa, misalnya ada yang masih di sekolah, ada yang belum pulang sekolah karena ada kegiatan dan sebagainya. Sementara ustaz hanya punya waktu mengajar hingga pukul 10 malam (22.00 WIB). Jadi, mereka yang di Eropa harus dibarengkan dengan yang di Eropa, yang di sini harus dibarengkan dengan yang di sini, misalnya,” jelasnya.
Sebagai peserta, Fermi mengatakan perlu kepiawaian dalam mengatur waktu untuk belajar mengaji atau mengikuti suatu kajian online. Pada waktu pengajar siap dengan materinya, bukan tidak mungkin peserta baru mulai salat subuh, atau malah sudah memasuki jam tidur malam mereka.
Sementara itu, Devi tidak pernah menyangka grup yang diinisiasinya berkembang semakin banyak bahkan setelah pandemi berakhir. Peserta grup ngajinya kini datang dari berbagai kelompok usia yang tersebar di berbagai negara dari semua benua. Selain belajar membaca Al-Qur’an, ada juga grup kajian Islam, konseling dan bimbingan untuk berbagai hal.
Grupnya, yang belum juga ia beri nama, terus bertambah seiring dengan kebutuhan. Ia menyebut contoh apa yang dialaminya baru-baru ini. Begitu satu kelompok merasakan perlunya kajian mengenai tafsir Al-Qur’an, ia pun membentuk grup baru untuk itu dan menghubungi pengajarnya.
