“Kalau mengajar dari kampus ke tempat lain itu, perjalanan di kota Jakarta luar biasa macetnya. Kira-kira 60 persen -70 persen waktu terbuang di jalan. Kalau kita mengajar melalui Zoom seperti ini, pindah negara satu ke negara yang lain hitungannya detik. Jadi mungkin hampir mengalahkan kemampuan jin ifrit pindah dari satu negara ke negara lain. Sangat efisien dan kita tidak perlu capek-capek,” katanya.
Tantangan
Meski tidak merasakan dukanya mengajar online, bukan berarti tidak ada tantangan yang dihadapi ustaz Taslim. Tidak kenal langsung dan mengetahui karaker peserta mulai dari anak-anak hingga yang berusia 80-an tahun adalah tantangan pertamanya.
Berikutnya, anak-anak diaspora Indonesia rata-rata bercakap dalam bahasa Inggris. Tak kalah sulitnya adalah mengawasi anak-anak selama belajar online. Akan tetapi sejauh ini ia bersyukur karena hampir seluruh peserta yang dibimibingnya akhirnya dapat membaca Al-Qur’an.
Tantangan lainnya adalah mengatur jadwal setiap grup karena adanya selisih waktu di tempat peserta bermukim. Devi membantu mengatur jadwal setiap calon peserta dengan waktu ustaz atau ustazah yang tersedia.
