“Saat itu saya berharap dengan masuk kelas lain dapat menambah wawasan saya dalam mengajar. Guru-guru di tempat saya mengajar sangat memahami kondisi saya saat itu. Mereka dan kepala sekolah kerap membantu saya dalam mengatasi masalah ekonomi. Inilah yang membuat saya merasa dihargai sebagai guru,” jelasnya yang dikenal oleh rekan-rekannya sebagai sosok pemelajar sejati.
Safriani menyadari, tugasnya sebagai guru dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi. Berbagai pelatihan ia ikuti seperti pendidikan dan latihan peningkatan mutu pembelajaran di sekolah, sekolah inklusi, pelatihan penguatan literasi di sekolah, hingga pengembangan diri.
“Meski saat itu status saya masih guru honor, Alhamdulillah semua rekan guru di sekolah percaya dan sangat mendukung saya untuk mengikuti berbagai macam pelatihan baik secara moril maupun materil. Mungkin bagi sebagian orang (pelatihan) itu melelahkan tapi bagi saya itu merupakan pengalaman yang sangat bermanfaat. Saya sering membagikan informasi yang saya terima kepada teman-teman,” paparnya.
