Safriani kecil dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana. Ayah dan ibunya berprofesi sebagai petani. Di usia dua tahun, Safriani harus kehilangan ayahnya karena sakit. Sebagai orang tua tunggal, ibunya harus berjuang menghidupi dirinya sendiri dan 8 orang anaknya.
“Perjuangan dan jasa ibu saya sungguh besar untuk bisa menyekolahkan kami dan mencukupi kebutuhan kami semua. Ibu harus rela menjadi buruh tani di lahan orang lain,” ungkap anak ke-7 dari 8 bersaudara ini menceritakan kisah masa kecilnya.
Saat itu, Safriani kerap bertanya kepada sang ibu, ”Kapan nasib kita akan berubah, Bu?”. Lalu, ibunya menjawab, “Sabar Nak, sekarang belajarlah dengan baik suatu saat nanti kamu pasti bisa meraih apa yang kamu inginkan,” ujar sang ibu menyemangati.
Akibat kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil pulalah beberapa saudara laki-lakinya memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Mereka memilih bekerja untuk membantu meringankan beban perekonomian keluarga. “Bagi orang tua saya pendidikan sangatlah penting supaya kelak ilmu yang didapatkan bisa bermanfaat untuk mengubah hidup menjadi lebih baik,” tuturnya.
