Selain deforestasi yang menyusutkan habitat satwa liar, kata Laurance, hutan Indonesia juga kerap menjadi arena perburuan liar, dan kerap menghadapi fenomena alam yang disebut El Nino yang bisa menyebabkan kemarau dan kebakaran.
Terkait perburuan liar, menurut Laurance, banyak satwa liar– termasuk yang dilindungi – “dipanen” dari Indonesia oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan dijual ke luar negeri. Salah satu pasar utamanya adalah China, dengan barang yang diekspor termasuk trenggiling, cula badak, dan tulang harimau yang biasanya dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional.
Laurance memuji usaha pemerintah Indonesia menurunkan laju deforestasi secara signifikan, tetapi, menurutnya, itu bukan cerminan bahwa sejumlah satwa yang terancam dan sangat terancam secara otomatis meningkat populasinya.
“Selama dua tahun terakhir memang ada penurunan laju deforestasi, sekitar dua pertiganya. Pemerintah sepertinya ingin mengatakan, ‘lihat …kami berhasil menurunkan laju kerusakan hutan sehingga hasil penelitian kalian bahwa populasi orangutan menurun sulit dibenarkan.’” katanya.
