“Itu janji Prabowo bertaruh, dengan program makan siang gratis, sedangkan pada era Jokowi pertumbuhannya sekitar 5 persen, meski dihantam pandemi Covid pertumbuhan ekonomi itu 5 persen,” imbuhnya.
Saat ini aset gedung hingga teknologi membutuhkan penyebaran yang merata, jika menyebarkan makan siang gratis dengan menjalankan reforma agrarianya, 8 persen pertumbuhan itu tinggi dan merata.
“Jadi totalitas, jika itu terjadi kami apresiasi ada kesempatan besar pada era Pak Prabowo ke depan. Jangan terjebak 500 triliun rupiah digelontorkan tapi petani tidak diperhatikan,” tukasnya.
Masih menjadi problem pokok adanya persoalan itu dan investasi di Pulau Jawa jangan hanya pencitraan di televisi. Pembangunan kota dan desa harus simultan.
“Di Belanda, petani disana kaya raya, petani dilindungi pemerintah, daya beli masyarakat tinggi, nilai tukar tinggi, dan peternak juga kaya,” ungkapnya membandingkan.
Menurutnya, Indonesia bisa melakukan hal yang sama, asal kontribusi pada semua lini sektor seimbang, pertanian mau 13 – 20 persen, modernisasi, pada bidang otomotifnya petani memakai traktor dan jangan mencangkul lagi.
