Namun, angka 22,6% bukanlah sepele. Mereka yang menyatakan kepercayaan mereka terhadap Jokowi terpengaruh isu ijazah justru lebih besar dari jumlah mereka percaya isu ijazah palsu itu sendiri (12,2 %). Hal ini mengindikasikan bahwa daya rusak
dari isu ini tidak hanya berada pada tataran faktual, melainkan juga pada ranah simbolik dan psikologis.
Dalam kontestasi politik, persepsi publik adalah aset sensitif dan dapat berubah cepat. Jika satu dari lima warga merasa goyah kepercayaannya, maka hal ini menunjukkan bahwa isu ini berhasil menembus batas psikologis pada kelompok tertentu, meski tidak cukup kuat untuk membentuk konsensus nasional.
Pola ini menjadi lebih jelas ketika data dibedah menurut demografi. Misalnya, kelompok pendapatan menengah (2-4 juta) menjadi paling tinggi mengaku terpengaruh (24,1%). Begitu pula kalangan terpelajar (pendidikan D3 ke atas) menunjukkan angka pengaruh mencapai 35,1%.
“Kedua segmen ini adalah mereka secara aktif mengonsumsi informasi, punya akses ke sumber alternatif, dan cenderung kritis terhadap elite,” tukasnya.

